
- This event has passed.
PERSALUNY-FK HOMECOMING 2020
27/02/2020 @ 8:00 AM - 5:00 PM
Berdasarkan data Global Nutrition Report 2018, Indonesia termasuk dalam 26 negara yang memiliki masalah gizi ganda, yaitu stunting dan anemia. Pola pertumbuhan dan status gizi merupakan indikator kesejahteraan. Menyelesaikan segera masalah gizi anak-anak Indonesia adalah hal yang mendesak. Berdasarkan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan oleh World Food Program (WFP), diestimasikan sebanyak 87 juta penduduk Indonesia mengalami kerawanan pangan. Hal ini berdampak pada angka malnutrisi, khususnya stunting yang dialami oleh 37,2% balita atau lebih dari 8 juta anak Indonesia.
Stunting merupakan salah satu ancaman serius terhadap pembangunan kesehatan, khususnya pada kualitas generasi mendatang. Stunting merupakan indikasi dari kejadian yang lebih serius, yaitu kemampuan kognitif dan risiko terjadinya penyakit tidak menular. Menurut data UNICEF 2019, terdapat sekitar 7 juta balita di Indonesia dengan kondisi stunting.
Stunting adalah kondisi anak lebih pendek dibanding anak seusiannya atau tinggi badan anak berdasarkan umur rendah, sebagai akibat dari kurang gizi kronis. Stunting menurut UNICEF didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO. Stunting tidak hanya mengakibatkan tubuh anak pendek, tetapi juga mempengaruhi pertumbuhan anak saat dewasa menjadi tidak maksimal. Kejadian stunting pada anak merupakan suatu proses kumulatif yang terjadi sejak kehamilan, masa kanak-kanak, dan sepanjang siklus kehidupan. Dampak stunting yang telanjur muncul tidak dapat diperbaiki kembali (irreversible).
Terkait dengan hal ini, Islam juga memberi perintah yang relevan, yaitu Allah melarang umatnya untuk meninggalkan anak keturunan dalam kondisi lemah (dhoif). Lemah di sini diartikan sebagai lemah ekonomi, lemah pendidikan termasuk lemah kesehatannya. Dalam satu riwayat hadits juga dijelaskan bahwa Allah lebih menyukai hamba yang kuat daripada hamba yang lemah. Dua dalil ini sangat representatif dan korelatif jika dikaitkan dengan konteks stunting serta dampaknya terhadap pembangunan sumber daya manusia.
Stunting adalah pekerjaan besar multi sektoral baik pemerintah, swasta, pegiat Rumah sakit, akademisi dan tokoh agama. Sarasehan ini dimaksudkan untuk menjadi sarana diskusi untuk menggali informasi yang lebih mendalam antar narasumber dan alumni FK Yarsi tentang permasalahan gizi dan stunting
JUDUL
Sarasehan “Mencari Solusi Penanggulangan Stunting di Era JKN; Peran Serta Dokter Alumni FK Universitas Yarsi Bersama Seluruh Stakeholder Bangsa”
TUJUAN
– Meningkatkan pemahaman permasalahan stuting di Indaonesia.
– Menyusun komitmen bersama dan rekomendasi pencegahan stunting.
KELUARAN/OUTPT
– Adanya pemahaman permasalahan stuting di Indonesia.
– Adanya komitmen bersama pencegahan stuting.
HARI / TANGGAL
Sabtu / 29 Februari 2020.
PUKUL
07:30 – 15:30 WIB.
LOKASI
Auditorium Ar-Rahman, Menara Universitas YARSI Lantai 12, Jl. Letjen Soeprapto – Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
PESERTA
Alumni Fakultas Kedokteran Universitas YARSI dari berbagai propinsi di Indonesia dan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI (500 orang)
NARASUMBER
- Dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG.(K) – Kepala BKKBN.
- Prof. Dr. H. Fasli Jalal, PhD. (Rektor Universitas YARSI).
- Dr. Daeng M. Faqih, MHKes.
- DR. Dr. Wan Nedra Komaruddin, Sp.A. – Praktisi
- Dr. Nanang Sugiarto, MARS. – Direktur Rumah Sakit
- DR. Dr. Yout Savitri, MARS. – Kasubdit Pengelolaan Rujuakan dan Pemantauan RS KEMENKES
- Dr. Shinta Chaerudin – Anggota DPRD Tangerang Selatan
MODERATOR
Dr. Eko S. Nugroho, MPH.